i_kamarga : Iki cerito JARIK LURIK.. Sing diagem BU CARIK. Digawe nutupi BARANG CILIK.. Sing ketutupan RAMBUT BRINTIK.. Njerone koyo SAWO KECIK.. Nek mbengi mesti DIUTHAK ATHIK.. Mergo arep digawekno ADIK.. Kangmas muni AYO THO DIK.. Enak tenan ngrasakno barang sing NDELIK.. Yen wis mlebu RINGAK RINGIK. Yen kesel DIK ayo DIWALIK.. Nek wis metu ADUH DIK.. Enake ngluwihi IWAK PITIK.. Omonge BU CARIK.. Nek Ngguyu Tondone wis NGLAKONI BOLAK BALIK.
Senin, 12 April 2010
Minggu, 28 Maret 2010
Radang pernafasan
Begitu kering dan berdebu, membuat hampir semua jemaah haji pulang ke tanah air membawa oleh-oleh radang pernafasan. Hal ini sekarang sudah bisa diatasi berkat sebuah produk namanya Laura VCO
Silahkan hubungi :
0274-740.7588
075 6666 050
0813 279 3636 7
075 6666 050
0813 279 3636 7
Sayyiduna Umar bin Khattab dan Gadis yang Jujur
Khalifah Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu memiliki kegemaran melakukan ronda malam sendirian untuk melihat langsung kondisi rakyatnya. Sepanjang malam ia memeriksa keadaan rakyatnya secara langsung dari dekat.
Ketika melewati sebuah gubuk, khalifah merasa curiga melihat lampu yang masih menyala. Di dalamnya terdengar suara orang berbisik-bisik. Khalifah Umar menghentikan langkahnya. Ia penasaran ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Dari balik bilik Khalifah Umar mengintipnya. Tampaklah seorang ibu dan anak perempuannya sedang sibuk mewadahi susu.
“Bu, kita hanya mendapat beberapa kaleng hari ini,” kata anak perempuan itu. “Mungkin karena musim kemarau, air susu kambing kita jadi sedikit.”
Ketika melewati sebuah gubuk, khalifah merasa curiga melihat lampu yang masih menyala. Di dalamnya terdengar suara orang berbisik-bisik. Khalifah Umar menghentikan langkahnya. Ia penasaran ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Dari balik bilik Khalifah Umar mengintipnya. Tampaklah seorang ibu dan anak perempuannya sedang sibuk mewadahi susu.
“Bu, kita hanya mendapat beberapa kaleng hari ini,” kata anak perempuan itu. “Mungkin karena musim kemarau, air susu kambing kita jadi sedikit.”
Umar Bin Khattab, Teladan Untukmu Para Pemimpin., Beliau Turun Langsung ke Bawah Hindari ABS
Umar Bin Khattab, orang-orang muslim mengenalnya sebagai salah seorang sahabat dekat Rasulullaah Muhammad Shallaahu Alaihi Wassalaam. Salah seorang al-Khulafa’ ar-Rasyidun – para pemimpin terbaik – selain Abu Bakar, Ali Bin Abi Thalib dan Utsman Bin Affan. Mereka adalah para pemimpin yang tidak perlu melakukan kampanye merebut hati rakyat agar bisa menjadi pemimpin, mereka adalah orang orang yang menganggap kursi kepemimpinan bukan sebagai sebuah anugerah atau sebuah karir atau sebuah pengakuan atas puncak prestasi, mereka adalah orang orang yang menganggap kekuasaan adalah sebuah amanah yang harus dipertanggungjawaban kelak di hadapan Pemimpin Para Pemimpin, siapa lagi jika bukan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Ini adalah sebuah kisah tentang seorang pemimpin teladan yang seharusnya menjadi cermin dan panutan para pemimpin saat ini, karena sungguh telah kita lihat dengan mata kepala sendiri, di jaman sekarang sangat sulit kita temukan tipe pemimpin yang benar benar layak disebut sebagai seorang pemimpin.
Ini adalah sebuah kisah tentang seorang pemimpin teladan yang seharusnya menjadi cermin dan panutan para pemimpin saat ini, karena sungguh telah kita lihat dengan mata kepala sendiri, di jaman sekarang sangat sulit kita temukan tipe pemimpin yang benar benar layak disebut sebagai seorang pemimpin.
Shalat Hajat Untuk Memperoleh Kemudahan Rizki
Diriwayatkan dari Imam Zainal Abidin (sa): Pada suatu hari ia menjumpai seseorang sedang duduk di depan pintu orang lain, lalu beliau berkata kepadanya: Mengapa kamu duduk di depan pintu manusia yang hidupnya suka berfoya-foya dan angkuh, celakalah kamu. Lalu beliau berkata: Bangunlah! Akan kuantarkan kamu ke pintu yang lebih baik darinya, kepada Pemelihara Yang Maha Agung. Kemudian Imam Zainal Abidin (sa) memegang tangannya lalu mengantarkannya sampai ke masjid Nabi saw. Lalu beliau berkata kepadanya: Menghadaplah ke kiblat, lalukan shalat dua rakaat, kemudian angkatlah tanganmu kepada Allah ‘Azza wa Jalla, pujilah Allah, bacalah shalawat; kemudian berdoalah dengan akhir surat Al-Hasyr, enam ayat dari awal surat Al-Hadid, dan dua ayat surat Ali-Imran, kemudian mohonlah kepada Allah swt apa yang kamu inginkan. Sungguh tidaklah kamu meminta sesuatu kepada-Nya kecuali Dia akan memberimu.
Doa Untuk Memperoleh Kemudahan dan Keluasan Rizki
بسم الله الرحمن الرحيم
اللهم صل على محمد وآل محمد
أَللَّهُمَّ يَا سَبَبَ مَنْ لاَ سَبَبَ لَهُ، يَاسَبَبَ كُلِّ ذِيْ سَبَبٍ، يَامُسَبِّبَ اْلأَسْبَابِ مِنْ غَيْرِ سَبَبٍ، صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ، وَأَغْنِنِيْ بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَبِطَاعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ، وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ يَاحَيُّ يَاقَيُّوْمُ، صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ، وَتُبْ عَلَيَّ يَاكَرِيْمُ، وَاغْفِرْلِي يَاحَلِيْمُ، وَتَقَبَّلْ مِنِّي وَاسْمَعْ دُعَآئِي، وَلاَتُعْرِضْ عَنِّي فَإِنِّي عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ، فَقِـيْرٌ بَيْنَ يَدَيْكَ سَآئِلٌ بِبَابِكَ، وَاقِفٌ بِفِنَآئِكَ، أَرْجُو مِنْكَ وَأَطْلُبُ مَاعِنْدَكَ، وَأَسْتَفْتِحُ مِنْ خَزَآئِنِكَ، سُبْحَانَكَ أَنْتَ اللهُ الْعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ، اَلْجَوَادُ الْكَرِيْمُ، جُدْ عَلَيَّ مِنْ فَضْلِكَ وَتَكَرَّمْ مِنْ رَحْمَتِكَ، وَتُبْ عَلَيَّ يَاسَيِّدِي تَوْبَةً نَصُوْحًا، فإِنِّي أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ اِلَيْكَ، وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَـيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبيِّ وَآلِهِ الطَّاهِرِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Bismillâhir Rahmânir Rahîm
اللهم صل على محمد وآل محمد
أَللَّهُمَّ يَا سَبَبَ مَنْ لاَ سَبَبَ لَهُ، يَاسَبَبَ كُلِّ ذِيْ سَبَبٍ، يَامُسَبِّبَ اْلأَسْبَابِ مِنْ غَيْرِ سَبَبٍ، صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ، وَأَغْنِنِيْ بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَبِطَاعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ، وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ يَاحَيُّ يَاقَيُّوْمُ، صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ، وَتُبْ عَلَيَّ يَاكَرِيْمُ، وَاغْفِرْلِي يَاحَلِيْمُ، وَتَقَبَّلْ مِنِّي وَاسْمَعْ دُعَآئِي، وَلاَتُعْرِضْ عَنِّي فَإِنِّي عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ، فَقِـيْرٌ بَيْنَ يَدَيْكَ سَآئِلٌ بِبَابِكَ، وَاقِفٌ بِفِنَآئِكَ، أَرْجُو مِنْكَ وَأَطْلُبُ مَاعِنْدَكَ، وَأَسْتَفْتِحُ مِنْ خَزَآئِنِكَ، سُبْحَانَكَ أَنْتَ اللهُ الْعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ، اَلْجَوَادُ الْكَرِيْمُ، جُدْ عَلَيَّ مِنْ فَضْلِكَ وَتَكَرَّمْ مِنْ رَحْمَتِكَ، وَتُبْ عَلَيَّ يَاسَيِّدِي تَوْبَةً نَصُوْحًا، فإِنِّي أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ اِلَيْكَ، وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَـيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبيِّ وَآلِهِ الطَّاهِرِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Bismillâhir Rahmânir Rahîm
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammadin wa âli Muhammad
Allâhumma yâ Sababa man lâ sababa lah(u), yâ Sababa kulli dzî sabab, yâ Musabbibal asbâbi min ghayri sabab, shalli ‘alâ Muhammadin wa ali Muhammad, waghninî bihalâlika ‘an harâmik(a), wa bithâ’atika ‘an ma’shiyatik(a), wa bifadhlika ‘anman siwâka yâ Hayyu yâ Qayyûm, shalli ‘alâ Muham-madin wa ali Muhammad, wa tub ‘alayya yâ Karîm, waghfirlî yâ Halîm, wa taqabbal minnî wasma’ du’âi, walâ tu’ridh ‘annî fainnî ‘abduka wabnu ‘abdika wabnu amatika, faqîrun bayna yadayka sâilun bibâbika, wâqifun bifinâik(a), arjû minka wa athlubu mâ ‘indaka, wastaftihu min khazâinik(a). Subahânaka Antallâhu Al-`Azhîmul Halîm, Al-Jawâdul Karîm, jud ‘alayya min fadhlika wa takarram min rahmatik(a), wa tub ‘alayya yâ Sayyidî tawbatan nashûhâ fainnî astaghfiruka wa atûbu ilayka, wa lâ hawla walâ quwwata illâ billâhi Al-’Aliyyul ‘Azhîm, wa shallâhu ‘alâ sayyidinâ Muhammadinin Nabiyyi wa âlihith thâhirîn wa sallama taslîman katsîrâ. Birahmatika yâ Arhamar râhimîn.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang
Sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya
Ya Allah, wahai Penyebab yang tak memiliki sebab, wahai Penyebab semua yang memiliki sebab, wahai Penyebab dari semua sebab, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan kayakan aku dengan rizki-Mu yang halal daripada yang Kau haramkan, dengan ketaatan pada-Mu daripada maksiat atas-Mu, dan dengan karunia-Mu daripada selain-Mu ya Hayyu ya Qayyum, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, bukakan pintu taubat bagiku wahai Yang Maha Mulia, ampuni aku wahai yang Maha Bijaksana, terimalah amalku dan dengarlah doaku.
Jangan palingkan wajah-Mu dariku sesungguhnya aku adalah hamba-Mu putera hamba-Mu, Aku fakir di hadapan-Mu, aku memohon pada-Mu di pintu-Mu, dan berdiri di halaman-Mu. Aku berharap pada-Mu dan mendambakan apa yang ada di sisi-Mu, aku memohon pada-Mu agar Kau bukakan khazanah-khazanah-Mu.
Maha Suci Engkau, Engkaulah Allah Yang Maha Agung dan Maha Bijaksana, Yang Maha Dermawan dan Maha Penyantun, limpahkan padaku karunia-Mu, muliakan aku dengan rahmat-Mu, yâ Sayyidî Junjunganku bukakan pintu taubat bagiku taubat nashuha (yang sebenarnya), sungguh aku memohon ampun pada-Mu dan bertaubat pada-Mu. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Semoga Allah senantiasa mencurahkan shalawat kepada junjungan kami dan Nabi kami Muhammad dan keluarganya yang suci, dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengasih dari semua yang mengasihi.
Allâhumma yâ Sababa man lâ sababa lah(u), yâ Sababa kulli dzî sabab, yâ Musabbibal asbâbi min ghayri sabab, shalli ‘alâ Muhammadin wa ali Muhammad, waghninî bihalâlika ‘an harâmik(a), wa bithâ’atika ‘an ma’shiyatik(a), wa bifadhlika ‘anman siwâka yâ Hayyu yâ Qayyûm, shalli ‘alâ Muham-madin wa ali Muhammad, wa tub ‘alayya yâ Karîm, waghfirlî yâ Halîm, wa taqabbal minnî wasma’ du’âi, walâ tu’ridh ‘annî fainnî ‘abduka wabnu ‘abdika wabnu amatika, faqîrun bayna yadayka sâilun bibâbika, wâqifun bifinâik(a), arjû minka wa athlubu mâ ‘indaka, wastaftihu min khazâinik(a). Subahânaka Antallâhu Al-`Azhîmul Halîm, Al-Jawâdul Karîm, jud ‘alayya min fadhlika wa takarram min rahmatik(a), wa tub ‘alayya yâ Sayyidî tawbatan nashûhâ fainnî astaghfiruka wa atûbu ilayka, wa lâ hawla walâ quwwata illâ billâhi Al-’Aliyyul ‘Azhîm, wa shallâhu ‘alâ sayyidinâ Muhammadinin Nabiyyi wa âlihith thâhirîn wa sallama taslîman katsîrâ. Birahmatika yâ Arhamar râhimîn.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang
Sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya
Ya Allah, wahai Penyebab yang tak memiliki sebab, wahai Penyebab semua yang memiliki sebab, wahai Penyebab dari semua sebab, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan kayakan aku dengan rizki-Mu yang halal daripada yang Kau haramkan, dengan ketaatan pada-Mu daripada maksiat atas-Mu, dan dengan karunia-Mu daripada selain-Mu ya Hayyu ya Qayyum, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, bukakan pintu taubat bagiku wahai Yang Maha Mulia, ampuni aku wahai yang Maha Bijaksana, terimalah amalku dan dengarlah doaku.
Jangan palingkan wajah-Mu dariku sesungguhnya aku adalah hamba-Mu putera hamba-Mu, Aku fakir di hadapan-Mu, aku memohon pada-Mu di pintu-Mu, dan berdiri di halaman-Mu. Aku berharap pada-Mu dan mendambakan apa yang ada di sisi-Mu, aku memohon pada-Mu agar Kau bukakan khazanah-khazanah-Mu.
Maha Suci Engkau, Engkaulah Allah Yang Maha Agung dan Maha Bijaksana, Yang Maha Dermawan dan Maha Penyantun, limpahkan padaku karunia-Mu, muliakan aku dengan rahmat-Mu, yâ Sayyidî Junjunganku bukakan pintu taubat bagiku taubat nashuha (yang sebenarnya), sungguh aku memohon ampun pada-Mu dan bertaubat pada-Mu. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Semoga Allah senantiasa mencurahkan shalawat kepada junjungan kami dan Nabi kami Muhammad dan keluarganya yang suci, dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengasih dari semua yang mengasihi.
Doa untuk Memperoleh keberkahan Rizki
بسم الله الرحمن الرحيم
اللهم صل على محمد وآل محمد
أَللَّهُمَّ إِنَّ ذُنُوْبِي لَمْ يَبْقَ إِلاَّ رَجَآءُ عَفْوِكَ، وَقَدْ قَدَّمْتُ أَلَةَ الْحِرْمَانِ بَيْنَ يَدَيَّ فَأَسْأَلُكَ مَالاَأَسْتَحِقُّهُ وَأَدْعُوْكَ مَالاَأَسْتَوْجِبُهُ وَأَتَضَرَّعُ إِلَيْكَ مَالاَأَسْتَأْهِلُهُ، وَلَمْ يَخْفَ عَلَيْكَ حَالِي وَإِنْ خَفِيَ عَلَى النَّاسِ كُنْهُ مَعْرِفَةِ أَمْرِيْ. أَللَّهُمَّ إِنْ كاَنَ رِزْقِي فِي السَّمَآءِ فَأَهْبِطْهُ وَإِنْ كَانَ فِي اْلأَرْضِ فَأَظْهِرْهُ، وَإِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرَّبْهُ، وَإِنْ كَانَ قَرِيْبًا فَيَسِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ قَلِيْلاً فَكَثِّرْهُ وَبَارِكْ لِي فِيْهِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اللهم صل على محمد وآل محمد
أَللَّهُمَّ إِنَّ ذُنُوْبِي لَمْ يَبْقَ إِلاَّ رَجَآءُ عَفْوِكَ، وَقَدْ قَدَّمْتُ أَلَةَ الْحِرْمَانِ بَيْنَ يَدَيَّ فَأَسْأَلُكَ مَالاَأَسْتَحِقُّهُ وَأَدْعُوْكَ مَالاَأَسْتَوْجِبُهُ وَأَتَضَرَّعُ إِلَيْكَ مَالاَأَسْتَأْهِلُهُ، وَلَمْ يَخْفَ عَلَيْكَ حَالِي وَإِنْ خَفِيَ عَلَى النَّاسِ كُنْهُ مَعْرِفَةِ أَمْرِيْ. أَللَّهُمَّ إِنْ كاَنَ رِزْقِي فِي السَّمَآءِ فَأَهْبِطْهُ وَإِنْ كَانَ فِي اْلأَرْضِ فَأَظْهِرْهُ، وَإِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرَّبْهُ، وَإِنْ كَانَ قَرِيْبًا فَيَسِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ قَلِيْلاً فَكَثِّرْهُ وَبَارِكْ لِي فِيْهِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Bismillâhir Rahmânir Rahîm
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammadin wa âli Muhammad
Allâhumma inna dzunûbî lam yabqa illâ rajâu ‘afwika, wa qad qaddamtu alatal hirmâni bayna yadayya fa-as-aluka mâlâ astahiqquhu, wa ad’ûka mâlâ astawjibuhu, wa atadharra’u ilayka mâlâ asta’hiluhu, wa lam yakhfa ‘alayka hâlî wa in khafiya ‘alan nâsi kunhu ma’rifati amrî.
Allâhumma in kâna rizqî fis samâi fa-ahbith-hu, wa in kâna fil ardhi fa-azhhirhu, wa in kâna ba’îdan faqarribhu wa in kâna qarîban fayassirhu, wa in kâna qalîlan fakatstsirhu, wa bâriklî fîhi, brahmatika yâ Arhamar râhimîn.
Dengan asma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya
Ya Allah, sesungguhnya dosa-dosaku tak akan kekal kecuali harapan akan ampunan-Mu. Telah Aku hadapkan di depanku suatu penghalang, lalu aku memohon kepada-Mu sesuatu yang tak layak bagiku untuk Kau perkenankan, berdoa kepada-Mu sesuatu yang tak layak bagiku untuk Kau iijabahi, dan merendahkan diri kepada-Mu dengan sesuatu yang tak layak di hadapan-Mu. Namun bagi-Mu tidak tersembunyi keadaanku walaupun tersembunyi bagi manusia untuk mengetahui persoalanku yang sebenarnya. Ya Allah, jika rizkiku ada di langit turunkan, jika ada di bumi keluarkan, jika jauh dekatkan, jika dekat mudahkan, jika sedikit perbanyaklah, dan berkahi aku di dalamnya.
(Mafâtihul Jinân, kunci-kunci surga, hlm 471).
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammadin wa âli Muhammad
Allâhumma inna dzunûbî lam yabqa illâ rajâu ‘afwika, wa qad qaddamtu alatal hirmâni bayna yadayya fa-as-aluka mâlâ astahiqquhu, wa ad’ûka mâlâ astawjibuhu, wa atadharra’u ilayka mâlâ asta’hiluhu, wa lam yakhfa ‘alayka hâlî wa in khafiya ‘alan nâsi kunhu ma’rifati amrî.
Allâhumma in kâna rizqî fis samâi fa-ahbith-hu, wa in kâna fil ardhi fa-azhhirhu, wa in kâna ba’îdan faqarribhu wa in kâna qarîban fayassirhu, wa in kâna qalîlan fakatstsirhu, wa bâriklî fîhi, brahmatika yâ Arhamar râhimîn.
Dengan asma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya
Ya Allah, sesungguhnya dosa-dosaku tak akan kekal kecuali harapan akan ampunan-Mu. Telah Aku hadapkan di depanku suatu penghalang, lalu aku memohon kepada-Mu sesuatu yang tak layak bagiku untuk Kau perkenankan, berdoa kepada-Mu sesuatu yang tak layak bagiku untuk Kau iijabahi, dan merendahkan diri kepada-Mu dengan sesuatu yang tak layak di hadapan-Mu. Namun bagi-Mu tidak tersembunyi keadaanku walaupun tersembunyi bagi manusia untuk mengetahui persoalanku yang sebenarnya. Ya Allah, jika rizkiku ada di langit turunkan, jika ada di bumi keluarkan, jika jauh dekatkan, jika dekat mudahkan, jika sedikit perbanyaklah, dan berkahi aku di dalamnya.
(Mafâtihul Jinân, kunci-kunci surga, hlm 471).
Misionaris Bermimpi Bertemu Rasulullah saw
Nama saya Iselyus Uda, istri saya Maria Juana. Lima belas tahun saya menjadi penginjil di Kalimantan Tengah sampai akhirnya saya bertemu dengan seorang laki-laki dalam suatu mimpi.
Tidak pernah terbayang kalau kelak saya akan menginjakkan kaki di tanah haram yang dirindukan umat Islam. Bahkan tak pernah terpikir saya akan memeluk agama Islam yang tadinya saya benci. Sebab, sejak kecil saya dan istri biasa hidup di lingkungan adat yang sama sekali bertentangan dengan ajaran Islam.
Dulu, suku Dayak dikenal sebagai pengayau tengkorak manusia. Memburu kepala musuh, baik sesama suku maupun suku lain, merupa-kan pilar utama budaya dan kepercayaan kami lantaran kepala yang baru dipenggal sangat penting bagi terciptanya kesejahteraan seisi kampung. Sementara tengkorak lama makin luntur kekuatan magisnya. Untuk itu, dibutuhkan perburuan terus menerus yang menyebabkan sering terjadinya peperangan, baik antar suku ataupun dengan masyarakat luar.
Tidak pernah terbayang kalau kelak saya akan menginjakkan kaki di tanah haram yang dirindukan umat Islam. Bahkan tak pernah terpikir saya akan memeluk agama Islam yang tadinya saya benci. Sebab, sejak kecil saya dan istri biasa hidup di lingkungan adat yang sama sekali bertentangan dengan ajaran Islam.
Dulu, suku Dayak dikenal sebagai pengayau tengkorak manusia. Memburu kepala musuh, baik sesama suku maupun suku lain, merupa-kan pilar utama budaya dan kepercayaan kami lantaran kepala yang baru dipenggal sangat penting bagi terciptanya kesejahteraan seisi kampung. Sementara tengkorak lama makin luntur kekuatan magisnya. Untuk itu, dibutuhkan perburuan terus menerus yang menyebabkan sering terjadinya peperangan, baik antar suku ataupun dengan masyarakat luar.
Mabrurkah Haji Kita?
”Barangsiapa yang menunaikan haji dengan niat semata-mata karena Allah, tidak berkata kotor dan berbuat fasik, maka ia akan menjadi sosok suci seperti bayi yang dilahirkan oleh ibunya,” (HR Bukhari)
Cita-cita semua orang yang menunaikan ibadah haji, selain ingin hajinya diterima (makbul), juga yang lebih penting ingin hajinya mabrur, yakni haji yang mendapatkan penilaian khusus di sisi Allah SWT. Haji mabrur dijanjikan keutamaan khusus dari Rasulullah SAW: ”Tidak ada haji yang balasannya surga selain haji yang mabrur,” (HR. Bukhari-Muslim)
Cita-cita semua orang yang menunaikan ibadah haji, selain ingin hajinya diterima (makbul), juga yang lebih penting ingin hajinya mabrur, yakni haji yang mendapatkan penilaian khusus di sisi Allah SWT. Haji mabrur dijanjikan keutamaan khusus dari Rasulullah SAW: ”Tidak ada haji yang balasannya surga selain haji yang mabrur,” (HR. Bukhari-Muslim)
Kejarlah Kebajikan Sampai ke Liang Lahat
Waktu adalah ladang amal. Allah swt. menyediakannya agar kita menggunakannya sebagai modal penting menggapai ridha-Nya. Keutamaan seseorang di sisi Allah, selain ditentukan oleh keimanan dan amal shalihnya adalah faktor keterdahuluannya dalam keimanan dan amal shalihnya. Tidaklah sama antara orang-orang yang terdahulu masuk Islam -As-Sabiqunal Awwalun- dan orang-orang yang belakangan. Tidak sama antara jamaah yang berada di shaf awal dalam shalat dengan yang berada di barisan paling belakang. Berbeda derajat orang yang hadir di shalat Jumat paling awal dengan yang paling akhir.
Arafah
Padang Arafah dinamakan demikian karena—menurut pendapat sebagian ulama—Nabi Adam ‘arafa (dipertemukan kembali) dengan Hawa setelah keduanya diturunkan dari surga. Letak Arafah di sebelah tenggara Masjidil Haram sejauh 22 km dan dianggap kawasan luar Tanah Haram.
Jamaah haji harus wuquf (berada) di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, karena jika tidak maka hajinya tidak sah. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
“Haji adalah (wuquf) di Arafah.”
Ketika berada di tempat ini pada tanggal 9 Dzulhijjah hendaknya seseorang memperbanyak doa, berdzikir, dan membaca Al-Qur`an. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
“Sebaik-baik doa adalah doa pada Hari Arafah.”
Adapun doa yang dipanjatkan tergantung kebutuhan masing-masing orang dengan syarat tidak bertentangan dengan syariat, semisal mendoakan buruk untuk orang lain, atau berdoa agar diberi hal-hal yang haram.
Jamaah haji harus wuquf (berada) di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, karena jika tidak maka hajinya tidak sah. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
“Haji adalah (wuquf) di Arafah.”
Ketika berada di tempat ini pada tanggal 9 Dzulhijjah hendaknya seseorang memperbanyak doa, berdzikir, dan membaca Al-Qur`an. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
“Sebaik-baik doa adalah doa pada Hari Arafah.”
Adapun doa yang dipanjatkan tergantung kebutuhan masing-masing orang dengan syarat tidak bertentangan dengan syariat, semisal mendoakan buruk untuk orang lain, atau berdoa agar diberi hal-hal yang haram.
Muzdalifah: Tempat Bermalam Jamaah Haji
Muzdalifah terletak di antara Mina dan Arafah. Dinamakan demikian karena jama’ah haji berdatangan ke tempat ini pada tengah malam atau karena para jama’ah pergi meninggalkan tempat ini secara bersamaan. Ada pula yang menamakan tempat ini sebagai jam’an yang artinya adalah berkumpul, karena Adam dan Hawa berkumpul di tempat ini. Batasnya adalah antara lembah Muhassir sampai ke Al-Ma’zamain (dua gunung yang saling berhadapan, yang di tengahnya ada jalan) yaitu 4,8 KM², sedangkan luasnya adalah 12,25 KM². Di sana terdapat rambu-rambu pembatas yang menentukan batas awal akhir dan akhir Muzhdalifah.
Ketika jamaah haji berada di Muzdalifah untuk melaksanakan mabit (menginap pada malam hari) serta mengambil batu guna melempar jumrah, hendaknya dia memperbanyak doa, berdzikir, membaca talbiyah, dan tilawah Al-Qur`an. Sebab, malam tersebut merupakan malam yang agung. Adapun doa yang biasa dibaca adalah,
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu untuk memberiku rezeki di tempat ini berupa kebaikan secara menyeluruh, Engkau perbaiki semua perilaku diriku, dan Engkau palingkan aku dari segala keburukan. Sesungguhnya tidak ada yang bisa melakukan itu, melainkan Engkau, dan tidak ada yang bisa memperbaiki itu kecuali Engkau.”
Ketika jamaah haji berada di Muzdalifah untuk melaksanakan mabit (menginap pada malam hari) serta mengambil batu guna melempar jumrah, hendaknya dia memperbanyak doa, berdzikir, membaca talbiyah, dan tilawah Al-Qur`an. Sebab, malam tersebut merupakan malam yang agung. Adapun doa yang biasa dibaca adalah,
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu untuk memberiku rezeki di tempat ini berupa kebaikan secara menyeluruh, Engkau perbaiki semua perilaku diriku, dan Engkau palingkan aku dari segala keburukan. Sesungguhnya tidak ada yang bisa melakukan itu, melainkan Engkau, dan tidak ada yang bisa memperbaiki itu kecuali Engkau.”
Mina: Tempat Mabit dan Melempar
Salah satu tempat bersejarah bagi umat Islam di Kota Makkah yaitu Mina. Mina adalah sebuah lembah di padang pasir yang terletak sekitar 5 kilometer dari kota Mekkah, Arab Saudi. Mina didatangi oleh jamaah haji pada tanggal 8 Dzulhijah atau sehari sebelum wukuf di Arafah. Jamaah haji tinggal di sini sehari semalam sehingga dapat melakukan shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh. Kemudian setelah sholat Subuh tanggal 9 Dzulhijah, jamaah haji berangkat ke Arafah. Amalan seperti ini dilakukan Rasulullah SAW saat berhaji dan hukumnya sunnah. Artinya tanggal 9 Dzulhijah sebelum ke Arafah, tidak wajib bermalam di Mina.
Jamaah haji datang lagi ke Mina setelah selesai melaksanakan Wukuf di Arafah. Jamaah haji ke Mina lagi karena para jamaah haji akan melempar jumroh. Di Mina jamaah haji wajib melaksanakan mabit (bermalam) yaitu tanggal 10,11,12 Dzulhijah bagi jamaah haji yang melaksanakan Nafar Awal atau tanggal 10,11,12,13 dzulhijah bagi jamaah yang melaksanakan Nafar Tsani. Jika tidak bermalam di Mina, harus membayar dam (denda).
Tempat atau lokasi melempar jumroh terdapat di Mina, yaitu Jumrah Aqabah, Jumrah Wusta dan Jumrah Ula. Mina juga merupakan tempat atau lokasi penyembelihan binatang kurban. Di Mina ada mesjid Khaif, merupakan masjid dimana Rasulullah SAW melakukan shalat dan khutbah ketika berada di Mina saat melaksanakan ibadah Haji.
Jamaah haji datang lagi ke Mina setelah selesai melaksanakan Wukuf di Arafah. Jamaah haji ke Mina lagi karena para jamaah haji akan melempar jumroh. Di Mina jamaah haji wajib melaksanakan mabit (bermalam) yaitu tanggal 10,11,12 Dzulhijah bagi jamaah haji yang melaksanakan Nafar Awal atau tanggal 10,11,12,13 dzulhijah bagi jamaah yang melaksanakan Nafar Tsani. Jika tidak bermalam di Mina, harus membayar dam (denda).
Tempat atau lokasi melempar jumroh terdapat di Mina, yaitu Jumrah Aqabah, Jumrah Wusta dan Jumrah Ula. Mina juga merupakan tempat atau lokasi penyembelihan binatang kurban. Di Mina ada mesjid Khaif, merupakan masjid dimana Rasulullah SAW melakukan shalat dan khutbah ketika berada di Mina saat melaksanakan ibadah Haji.
Agar Ibadah Haji Diterima
Ibadah haji merupakan puncak peribadatan seorang muslim sebagai penunaian rukun Islam yang ke lima. Ulama menganalogikan haji sebagai pagar bagi sebuah bangunan, dimana berfungsi untuk menjaga dan memperindah bangunan tersebut. Namanya juga pagar, boleh jadi harus dibuat, jika mampu, namun jiga tidak mampu, ya tidak apa-apa.
Berbeda dengan rukun Islam yang lain. Syahadat diibaratkan dengan pondasi, dan karenanya harus kuat. Shalat lima waktu ibarat tiang, yang juga harus kokoh. Puasa ibarat dinding, yang juga harus berdiri kuat. Dan zakat merupakan atap, dimana berfungsi untuk mengayomi isi bangunan.
Berbeda dengan rukun Islam yang lain. Syahadat diibaratkan dengan pondasi, dan karenanya harus kuat. Shalat lima waktu ibarat tiang, yang juga harus kokoh. Puasa ibarat dinding, yang juga harus berdiri kuat. Dan zakat merupakan atap, dimana berfungsi untuk mengayomi isi bangunan.
Kunci Menjadi Haji Mabrur
وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
"Dan tidak ada ganjaran lain bagi haji mabrur (haji yang baik) selain surga." (HR. Bukhari, Muslim, Tirmdizi, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad dan Malik)
Hadis di atas, selain merupakan kabar gembira, juga merupakan peringatan bagi saudara-saudara kita yang sedang menunaikan ibadah haji di tanah suci, yaitu agar melaksanakan ibadah hajinya dengan ikhlas dan benar (sesuai tuntunan Rasulullah Saw.), serta taat pada setiap perintah dan larangan Allah.
Ikhlas dan sesuai tuntunan Rasulullah adalah syarat mutlak untuk semua ibadah, termasuk haji. Sebab, sebagaimana dikatakan Imam al-Fudhail bin 'Iyadh, ibadah tidak akan diterima bila tidak dikerjakan dengan cara yang benar, meskipun disertai dengan sikap ikhlas.
"Dan tidak ada ganjaran lain bagi haji mabrur (haji yang baik) selain surga." (HR. Bukhari, Muslim, Tirmdizi, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad dan Malik)
Hadis di atas, selain merupakan kabar gembira, juga merupakan peringatan bagi saudara-saudara kita yang sedang menunaikan ibadah haji di tanah suci, yaitu agar melaksanakan ibadah hajinya dengan ikhlas dan benar (sesuai tuntunan Rasulullah Saw.), serta taat pada setiap perintah dan larangan Allah.
Ikhlas dan sesuai tuntunan Rasulullah adalah syarat mutlak untuk semua ibadah, termasuk haji. Sebab, sebagaimana dikatakan Imam al-Fudhail bin 'Iyadh, ibadah tidak akan diterima bila tidak dikerjakan dengan cara yang benar, meskipun disertai dengan sikap ikhlas.
Umar Bin Khattab RA dan Ibu Pemasak Batu
Suatu masa dalam kepemimpinan Umar, terjadilah Tahun Abu. Masyarakat Arab, mengalami masa paceklik yang berat. Hujan tidak lagi turun. Pepohonan mengering, tidak terhitung hewan yang mati mengenaskan. Tanah tempat berpijak hampir menghitam seperti abu.
Putus asa mendera di mana-mana. Saat itu Umar sang pemimpin menampilkan kepribadian yang sebenar-benar pemimpin. Keadaan rakyat diperhatikannya saksama. Tanggung jawabnya dijalankan sepenuh hati. Setiap hari ia menginstruksikan aparatnya menyembelih onta-onta potong dan menyebarkan pengumuman kepada seluruh rakyat. Berbondong-bondong rakyat datang untuk makan. Semakin pedih hatinya. Saat itu, kecemasan menjadi kian tebal. Dengan hati gentar, lidah kelunya berujar, “Ya Allah, jangan sampai umat Muhammad menemui kehancuran di tangan ini.”
Putus asa mendera di mana-mana. Saat itu Umar sang pemimpin menampilkan kepribadian yang sebenar-benar pemimpin. Keadaan rakyat diperhatikannya saksama. Tanggung jawabnya dijalankan sepenuh hati. Setiap hari ia menginstruksikan aparatnya menyembelih onta-onta potong dan menyebarkan pengumuman kepada seluruh rakyat. Berbondong-bondong rakyat datang untuk makan. Semakin pedih hatinya. Saat itu, kecemasan menjadi kian tebal. Dengan hati gentar, lidah kelunya berujar, “Ya Allah, jangan sampai umat Muhammad menemui kehancuran di tangan ini.”
GARA GARA KESALAHAN DATA KOMPUTER
Catatan Siti Jamilah Hamdi
Mengenang Aminah Assilmi, Menjadi Seorang Muslimah Berawal dari kesalahan data komputer, hidup perempuan cerdas ini berubah total dari seorang penganut Kristen Baptis yang taat dan seorang feminis yang radikal, menjadi seorang muslimah dan salah satu tokoh cendekiawan Muslim di AS. Selama 33 tahun menjadi seorang Muslim, ia aktif berdakwah, diundang sebagai pembicara, menulis dan memberikan advokasi di bidang keislaman dan hak-hak perempuan. Dunia internasional mengenal dan menghormatinya sehingga baru-baru ini ia terpilih sebagai satu dari 500 Muslim paling berpengaruh di dunia.Namanya Aminah Assilmi. Usianya 65 tahun. Namun nama itu kini menjadi kenangan, karena Allah Swt telah memanggilnya pada tanggal 5 Maret 2010. Aminah meninggal dunia setelah pukul 03.00 dinihari waktu setempat, akibat kecelakaan mobil di dekat Newport, setelah memberikan ceramah di New York.
Mengenang Aminah Assilmi, Menjadi Seorang Muslimah Berawal dari kesalahan data komputer, hidup perempuan cerdas ini berubah total dari seorang penganut Kristen Baptis yang taat dan seorang feminis yang radikal, menjadi seorang muslimah dan salah satu tokoh cendekiawan Muslim di AS. Selama 33 tahun menjadi seorang Muslim, ia aktif berdakwah, diundang sebagai pembicara, menulis dan memberikan advokasi di bidang keislaman dan hak-hak perempuan. Dunia internasional mengenal dan menghormatinya sehingga baru-baru ini ia terpilih sebagai satu dari 500 Muslim paling berpengaruh di dunia.Namanya Aminah Assilmi. Usianya 65 tahun. Namun nama itu kini menjadi kenangan, karena Allah Swt telah memanggilnya pada tanggal 5 Maret 2010. Aminah meninggal dunia setelah pukul 03.00 dinihari waktu setempat, akibat kecelakaan mobil di dekat Newport, setelah memberikan ceramah di New York.
Langganan:
Postingan (Atom)